PQM Consultants | PQM Consultants | Perlukah Standardisasi Mutu Diterapkan dalam Institusi Pendidikan?

Blog

Perlukah Standardisasi Mutu Diterapkan dalam Institusi Pendidikan?

  |   Management   |   No comment

.

.

.

Mutu dalam setiap organisasi selalu menjadi agenda utama dan merupakan suatu tugas penting bagi organisasi untuk mengelola dan meningkatkannya. Mutu adalah sebuah filosofi dan metodologi yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan.

Misi utama dari sebuah institusi adalah untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Pertumbuhan dan perkembangan institusi bersumber dari kesesuaian layanan institusi dengan kebutuhan pelanggan. Mutu harus sesuai dengan harapan dan keinginan pelanggan. Harus diakui bahwa hal ini berlaku pula pada institusi pendidikan. Dalam Institusi pendidikan, fokus kualitas mutu ada dalam kepuasaan pelanggan. Pelanggan dalam pendidikan dapat dibagi dua yaitu :

  • Pelanggan internal yang terdiri dari guru, kepala sekolah, dosen, rektor, dekan, staff administrator, dan para peserta didik yang sudah ada.
  • Pelanggan eksternal yang terbagi menjadi :
    • Pelanggan eksternal primer yaitu calon peserta didik dan orang tua mereka.
    • Pelanggan eksternal sekunder yaitu masyarakat umum dan pengguna lulusan.
    • Pelanggan eksternal tertier yaitu pemerintah dan stakeholder (pengampu kepentingan).

 

Standarisasi mutu dapat pula diaplikasikan dalam Institusi pendidikan. Kunci sukses kultur standardisasi mutu adalah mata rantai internal-eksternal yang efektif antara pelanggan-produsen, yang didukung oleh hubungan internal yang kuat pula. Kolega dalam institusi adalah juga pelanggan yang memerlukan pelayanan internal agar mampu mengerjakan tugasnya secara efektif, begitu juga dalam institusi pendidikan, setiap orang yang bekerja dalam sekolah, perguruan tinggi ataupun universitas berperan ganda sebagai penyedia jasa sekaligus sebagai pelanggan sehingga kerja sama dan komunikasi yang baik antara kolega diperlukan agar nantinya institusi pendidikan dapat menjadi tim yang bekerja sama dengan lebih baik dan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dengan lebih baik pula.

Dalam Institusi pendidikan peningkatan mutu akan terwujud jika semua yang terlibat dalam institusi pendidikan merasa yakin bahwa pengembangan mutu akan membawa dampak positif bagi mereka dan akan menguntungkan para peserta didik.

Filosofi Standardisasi mutu melibatkan faktor faktor seperti : produktifitas, inovasi, pemecahan masalah, kepuasan pelanggan dan perubahan (Rao, et al 1996, 14-15). Esensi dari Standardisasi mutu terletak pada perubahan budaya. Perubahan budaya adalah sebuah proses yang lambat, dan dampaknya hanya akan dicapai bila semua pelakunya merasa perlu untuk ikut terlibat. Disinilah sistem sosial dalam standardisasi mutu akan tampak danĀ 

memegang peranan penting, menjadikan makna sejati dari pengelolaan mutu sehingga mampu menyentuh pikiran dan hati semua pelaku.

Penerapan standardisasi mutu ke dalam Institusi pendidikan secara konsisten dapat menciptakan Institusi pendidikan yang bermutu secara total. Jerome S. Arcaro (2005, 43) dalam Nugroho (2013, 46) menyatakan bahwa hal ini dapat dibangun dengan lima pilar mutu, yaitu : (1) fokus pada pelanggan, (2) keterlibatan total, (3) pengukuran, (4) komitmen, dan (5) perbaikan berkelanjutan.

Standardisasi mutu tidak dibuat untuk membuat para staff merasa sulit dengan pekerjaan tambahan, namun standardisasi mutu dimaksudkan untuk memperjelas pekerjaan per bagian dan menunjukkan dimana dapat terjadi keterkaitan pekerjaan diantara bagian bagian tersebut sehingga dapat mempermudah pekerjaan dengan hasil yang sesuai standar memuaskan pelanggan. Dengan menyadari bahwa adanya kaitan diantara komponen-komponen tersebut dan menguatkan kerja sama diantara setiap bagian, diharapkan nantinya dapat membawa dampak positif dan bertujuan akhir menguntungkan para peserta didik dengan mendapatkan mutu pendidikan yang lebih baik.

Jadi jawaban untuk perlukah standardisasi mutu diterapkan dalam Institusi pendidikan? Jawabannya adalah ya, sangat perlu, untuk mewujudkan tujuan menjadikan Institusi pendidikan yang holistik dengan hasil peserta didik yang siap menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan profesional yang tepat.

 

Oleh: Robby Anzil Firdaus | Konsultan di PQM Consultants

 

 

 

Referensi :
Nugroho, Riadi. “Proses Perbaikan Berkelanjutan dalam Mewujudkan Sekolah Unggul di SMK Negeri 3 Pati (Suatu kajian teoritis).” Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial 23.1 (2013): 42-58. http://journals.ums.ac.id/index.php/jpis/article/viewFile/840/561 Diakses pada 7 Maret Pukul 2.07
Pongtuluran, Aris. Manajemen Kualitas dalam Pendidikan Jakarta : UPH. 2014.
Rao, Ashok., et al. Total Quality Management : a Cross Functional Perspective. Singapore : Jhon Wiley & Sons. 1996. Sallis, Edward. Total Quality Management in Education. Cetakan VI. Jogjakarta : IRCISoD. 2007
No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.